Jumat, 01 Maret 2013

rahasia kulit


PERUJUKAN AL-QUR’AN TERHADAP SIDIK JARI

Ayahsabu al-Insaana allan najma’a ‘idhoomahu, balaa qoodiriina ‘ala an nusawwiya banaanah
Apakah manusia mengira, bahwa Kami tak mampu mengumpulkan kembali tulang belulangnya? Bukan demikan, sebenarnya kami kuasa menyusun kembali jari jemarinya secara sempurna.”
(QS Al-Qiayaamah 75:3-4)

O
rang-orang tak beriman membantah akan terjadinya hari kebangkitan dikarenakan tulang belulang manusia yang telah meninggal telah hancur di dalam bumi dan bagaimana mungkin tiap individu dapat teridentifikasi pada Hari Pengadilan. Allah yang Maha Agung telah menjawabnya bahwa Ia tak hanya mengumpulkan tulang belulang kita namun juga merekonstruksi secara sempurna keadaan ujung jari jemari kita.
Mengapa al-Qur’an ketika berbicara mengenai penentuan identitas seorang individu, berbicara secara spesifik mengenai ujung jari-jemari? Pada tahun 1880, sidik jari menjadi metode saintifis dalam pengidentifikasian, setelah riset yang dilakukan oleh Sir Francis Golt. Tidak ada dua orang manusia di dunia ini yang memiliki bentuk sidik jari yang benar-benar sama. Inilah alasan mengapa pasukan polisi sedunia menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi kriminal. 1400 tahun yang lalu, siapakah yang dapat mengetahui tentang keunikan sidik jari tiap manusia? Tentunya tak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Sang Pencipta itu sendiri.


RESEPTOR RASA SAKIT ADA DI KULIT












Dulu manusia mengira bahwa indera perasa dan peraba rasa sakit tergantung hanya pada otak. Penemuan akhir-akhir ini membuktikan bahwa reseptor rasa sakit terdapat di kulit dimana tidak ada seseorang yang tidak dapat merasakan rasa sakit. Ketika seorang dokter memeriksa seorang pasien yang terluka bakar, dia menguji tingkat luka bakar dengan cocokan peniti. Jika pasien masih bisa merasakan sakit, dokter tersebut akan senang, karena hal ini menandakan bahwa luka bakar yang diderita dangkal dan reseptor rasa sakit masih utuh. Namun di sisi lain, jika pasien tak dapat merasakan apa-apa, hal ini mengindikasikan adanya luka bakar yang dalam dan reseptor rasa sakit telah rusak. Al-Qur’an memberikan indikasi keberadaan reseptor rasa sakit ini dalam ayat berikut :

Sesungguhnya orang-orang yang menolak dengan ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesunggguhnya Allah Maha Pekasa lagi Maha Bijaksana.” (QS an-Nisaa’ 4:56).

Profesor Tagatat Tejasen, Kepala Jurusan Anatomi di Universitas Chiang Mai di Thailand, telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk penelitian reseptor rasa sakit. Pada awalnya beliau tak dapat mempercayai bahwa al-Qur’an telah menyebutkan fakta saintifis ini 1400 tahun yang lalu. Beliau kemudian memeriksa tranlasi/terjemahan ayat al-Qur’an dengan teliti. Prof Tejasen sangat terkesan dengan keakurasian saintifis ayat al-Qur’an, dimana pada Konferensi Kesehatan Saudi ke-8 yang diadakan di Riyadh berkenaan dengan isyarat saintifis al-Qur’an dan as-Sunnah, beliau mengikrarkan diri ke depan khayalak: Asyhadu an Laa Ilaaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammad rasuluLlah.

KESIMPULAN

Menghubungkan keberadaan fakta saintifis yang terdapat di dalam al-Qur’an dengan suatu kebetulan adalah suatu hal yang menyelisihi akal sehat dan pendekatan saintifis. Al-Qur’an menyeru seluruh manusia untuk memikirkan ciptaan yang ada di seantero alam semesta ini di dalam ayat :\

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imraan 3:190).

Bukti-bukti saintifik yang terdapat pada al-Qur’an secara terang membuktikan sifat keasliannya dari Allah. Tak ada manusia satupun yang dapat menghasilkan sebuah kitab, 14 abad yang lalu, yang berisi di dalamnya fakta-fakta saintifis, yang pada akhirnya akan ditemukan oleh generasi manusia setelahnya. Al-Qur’an, walau bagaimanapun, bukanlah sebuah buku sains namun sebuah buku yang berisi isyarat-isyarat. Isyarat ini mengajak menusia  untuk menyadari tujuan keberadaannya di bumi ini, dan untuk hidup berdampingan bersama alam dengan harmonis. Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu dari Allah, pencipta dan pemelihara alam semesta. Ia berisi seruan yang sama di dalam mengesakan tuhan, yang didakwahkan oleh seluruh Nabi, baik mulai dari Adam, Musa, Isa hingga Muhammad (Shallallahu 'alaihim wa sallam)

Beberapa kitab besar secara mendetail telah ditulis berkenaan dengan subyek al-Qur’an dan sains modern dan penelitian lebih jauh pada bidang ini masih berlangsung. Insya Allah, penelitian ini akan membantu manusia untuk lebih dekat lagi dengan Firman Allah ta’ala. Risalah ini berisi hanya sebagian kecil dan sedikit dari fakta-fakta saintifis yang terdapat di al-Qur’an. Saya tak dapat mengklaim telah menyelesaikan keadilan seluruhnya mengenai subyek ini. Prof Tajasen mau menerima Islam hanya karena satu isyarat saintifis  disebutkan di al-Qur’an. Beberapa orang bisa jadi memerlukan 10 isyarat dimana beberapa orang yang lain bisa jadi memerlukan ratusan isyarat agar yakin tentang keaslian Qur’an sebagai firman Tuhan. Beberapa orang mungkin masih tetap bersikukuh tak mau menerima kebenaran walaupun telah ditunjukan beribu-ribu ayat. Al-Qur’an mengutuk orang yang bermental rendah seperti ini di dalam ayat:

Mereka tuli, bisu. Dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali.” (QS al-Baqarah 2:18)

Al-Qur’an berisi bimbingan hidup yang sempurna baik untuk individu maupun untuk masyarakat. Alhamdulillah, jalan hidup Qur’ani adalah jauh lebih unggul daripada isme-isme lainnya yang mana manusia modern telah menciptakannya dengan kebodohan yang amat sangat. Siapakah yang petunjuknya lebih baik daripada sang pencipta itu sendiri?
Saya berharap semoga upaya sederhana ini dapat diterima oleh Allah, yang kepada-Nya aku memohon pengampunan dan petunjuk (Amin).

Translator : Ibnu Burhan

rahasia sakit


Rahasia di Balik Sakit

Kategori: Akhlaq dan Nasehat
Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35). Sahabat Ibnu ‘Abbas -yang diberi keluasan ilmu dalam tafsir al-Qur’an- menafsirkan ayat ini: “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal manusia.
Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)
Sakit akan menghapuskan dosa
Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)
Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)
Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya
Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)
Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah
Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)
Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini. Amin.
***
Penulis: Abu Hasan Putra
Artikel www.muslim.or.id

siwak bag.2


Siwak :
Keajaiban dalam Sunnah Nabi


Sejarah Penggunaan Siwak (Salvadora persica)
Penggunaan alat-alat kebersihan mulut telah dimulai semenjak berabad-abad lalu. Manusia terdahulu menggunakan alat-alat kebersihan yang bermacam-macam seiring dengan perkembangan sosial, teknologi dan budaya. Beraneka ragam peralatan sederhana dipergunakan untuk membersihkan mulut mereka dari sisa-sisa makanan, mulai dari tusuk gigi, batang kayu, ranting pohon, kain, bulu burung, tulang hewan hingga duri landak. Diantara peralatan tradisional yang mereka gunakan dalam membersihkan mulut dan gigi adalah kayu siwak atau chewing stick. Kayu ini walaupun tradisional, merupakan langkah pertama transisi/peralihan kepada sikat gigi modern dan merupakan alat pembersih mulut terbaik hingga saat ini.
          Miswak (Chewing Stick) telah digunakan oleh orang Babilonia semenjak 7000 tahun yang lalu, yang mana kemudian digunakan pula di zaman kerajaan Yunani dan Romawi, oleh orang-orang Yahudi, Mesir dan  masyarakat kerajaan Islam.  Siwak memiliki nama-nama lain di setiap komunitas, seperti misalnya di Timur Tengah disebut dengan miswak, siwak atau arak, di Tanzania disebut miswak, dan di Pakistan dan India disebut dengan datan atau miswak. Penggunaan chewing stick (kayu kunyah) berasal dari tanaman yang berbeda-beda pada setiap negeri. Di Timur Tengah, sumber utama yang sering digunakan adalah pohon Arak (Salvadora persica), di Afrika Barat yang digunakan adalah pohon limun (Citrus aurantifolia) dan pohon jeruk (Citrus sinesis). Akar tanaman Senna (Cassiva vinea) digunakan oleh orang Amerika berkulit hitam, Laburnum Afrika (Cassia sieberianba) digunakan di Sierre Leone serta Neem (Azadirachta indica) digunakan secara meluas di benua India. (Almas, 2003).
          Meskipun siwak sebelumnya telah digunakan dalam berbagai macam kultur dan budaya di seluruh dunia, namun pengaruh penyebaran agama Islam dan penerapannya untuk membersihkan gigi yang paling berpengaruh. Istilah siwak sendiri pada kenyatannya telah umum dipakai selama masa kenabian Nabi Muhammad yang memulai misinya sekitar 543 M. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seandainya tidak memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat (dalam riwayat lain : setiap akan berwudhu’).” Nabi memandang kesehatan dan kebersihan mulut adalah penting, sehingga beliau senantiasa menganjurkan pada isterinya untuk selalu menyiapkan siwak untuknya hingga akhir hayatnya.
          Siwak terus digunakan hampir di seluruh bagian Timur Tengah, Pakistan, Nepal, India, Afrika dan Malaysia, khususnya di daerah pedalaman. Sebagian besar mereka menggunakannya karena faktor religi, budaya dan sosial. Ummat Islam di Timur Tengah dan sekitarnya menggunakan siwak minimal 5 kali sehari disamping juga mereka menggunakan sikat gigi biasa. Penelitian yang dilakukan oleh Erwin dan Lewis (1989) menyatakan bahwa pengguna siwak memiliki relativitas yang rendah dijangkiti kerusakan dan penyakit gigi meskipun mereka mengkonsumsi bahan makanan yang kaya akan karbohidrat.

Morfologi dan Habitat Tanaman Siwak
Siwak atau Miswak, merupakan bagian dari batang, akar atau ranting tumbuhan Salvadora persica yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah, Asia dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon arak adalah pohon yang kecil seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, berdiameter lebih dari 1 kaki. Jika kulitnya dikelupas berwarna agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih. Aromanya seperti seledri dan rasanya agak pedas.
Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak sendiri berasal dari bahasa arab ‘yudlik’ yang artinya adalah memijat (massage). Siwak lebih dari sekedar sikat gigi biasa, karena selain memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walaupun di bawah tekanan yang keras, siwak juga memiliki kandungan alami antimikrobial dan antidecay system (sistem antipembusuk). Batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara tepat dan dapat mengikis plak pada gigi. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi.

Kandungan Kimia Batang Kayu  Siwak
Al-Lafi dan Ababneh (1995) melakukan penelitian terhadap kayu siwak dan melaporkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri, mengikis plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, meliputi :
-          Antibacterial Acids, seperti astringents, abrasive dan detergent yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi, menghentikan pendarahan pada gusi. Penggunaan kayu siwak yang segar pertama kali, akan terasa agak pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard yang merupakan substansi antibacterial acid tersebut.
-          Kandungan kimiawi seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluorida, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimetilamin, Salvadorin, Tannin dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
-          Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, yang dapat menyegarkan mulut dan menghilangkan bau tidak sedap.
-          Enzim yang mencegah pembentukan plak yang merupakan penyebab radang gusi dan penyebab utama tanggalnya gigi secara prematur.
-          Anti Decay Agent (Zat anti pembusukan) dan Antigermal System, yang bertindak seperti Penicilin menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah terjadinya proses pembusukan. Siwak juga turut merangsang produksi saliva, dimana saliva sendiri merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.
Menurut laporan Lewis (1982), penelitian kimiawi terhadap tanaman ini telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan sejumlah besar klorida, fluor, trimetilamin dan resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin C. Kandungan kimia tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin C membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida bermanfaat untuk menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat bereaksi sebagai penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi sebagai pencegah terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan mengurangi larutnya terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri.

Siwak sebagai zat antibakterial
El-Mostehy dkk (1998) melaporkan bahwa tanaman siwak mengandung zat-zat antibakterial. Darout et al. (2000) Melaporkan bahwa antimikrobial dan efek pembersih pada miswak telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi yang dapat terdeteksi pada ekstraknya. Efek ini dipercaya berhubungan dengan tingginya kandungan Sodium Klorida dan Pottasium Klorida seperti salvadourea dan salvadorine, saponin, tannin, vitamin C, silika dan resin, juga cyanogenic glycoside dan benzylsothio-cyanate. Hal ini dilaporkan bahwa komponen anionik alami terdapat pada spesies tanaman ini yang mengandung agen antimikrobial yang melawan beberapa bakteri. Nitrat (NO3-) dilaporkan mempengaruhi transportasi aktif porline pada Escherichia coli seperti juga pada aldosa dari E. coli dan Streptococcus faecalis. Nitrat juga mempengaruhi transport aktif oksidasi fosforilasi dan pengambilan oksigen oleh Pseudomonas aeruginosa dan Stapyhylococcus aureus sehingga terhambat.
Menurut hasil penelitian Gazi et al. (1987) ekstrak kasar batang kayu siwak pada pasta gigi yang dijadikan cairan kumur, dikaji sifat-sifat antiplaknya dan efeknya terhadap komposisi bakteri yang menyusun plak dan menyebabkan penurunan bakteri gram negatif batang.
Penyusun (2005) di dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh Ekstrak Serbuk Kayu Siwak (Salvadora persica) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans  Dan Staphylococcus aureus Dengan Metode Difusi Lempeng Agar” menemukan bahwa ekstrak serbuk kayu siwak bersifat antibakterial sedang terhadap bakteri S. mutans dan S. aureus.

Siwak sebagai “oral cleaner device” (alat pembersih mulut)
Siwak sangat efektif sebagai alat pembersih mulut. Almas (2002) meneliti perbandingan pengaruh antara ekstrak siwak dengan Chlorhexidine Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur (mouthwash) dan zat anti plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning Electron Microscopy). Almas melaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX 0,2% memiliki efek yang sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih banyak menghilangkan lapisan noda-noda (Smear layer) pada dentin.
Sebuah penelitian tentang Periodontal Treatment (Perawatan gigi secara berkala) dengan mengambil sampel terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para peneliti dari King Abdul Aziz University Jeddah, menunjukkan  bahwa Periodontal Treatment untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada treatment yang harus diberikan kepada masyarakat di negara lain, hal ini mengindikasikan rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap Periodontal Treatment.
Penelitian lain dengan menjadikan serbuk (powder) siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran serbuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kesehatan gigi secara sempurna adalah dengan menggunakan pasta gigi dengan butiran-butiran serbuk siwak, karena butiran-butiran serbuk siwak tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Hal ini yang mendorong perusahaan-perusahaan pasta gigi di dunia menyertakan serbuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO (World Health Organization) turut menjadikan siwak sebagai salah satu komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan.

(Diadopsi dari Skripsi penyusun yang berjudul “PENGARUH EKSTRAK SERBUK KAYU SIWAK (Salvadora persica) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans  DAN Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI LEMPENG AGAR), 2005, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

siwak


SIWAK : Si Kayu Ajaib Pelindung Gigi

S

ubhanaLlah, Maha suci Allah… sungguh indah dan sempurna agama yang diturunkan-Nya, sungguh mulia hukum-hukum yang disyariatkan-Nya, karena tak ada satupun dari apa-apa yang diturunkan-Nya dan apa-apa yang diciptakan-Nya kecuali pasti ada manfaat dan hikmahnya. Kesempurnaan islam ini benar-benar tiada bandingannya oleh agama-agama selainnya. Diantara kesempurnaan Islam adalah syariat bagi ummatnya untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, seperti kewajiban istinja’ setelah buang air, mandi janabat setelah junub, bahkan banyak sekali hikmah-hikmah syariat yang tersingkap dalam ajaran islam yang telah dibuktikan oleh sains modern, seperti khasiat madu, habbatus sawda’ (jinten hitam), minyak zaitun hingga ‘si kayu ajaib’ siwak yang bermanfaat bagi kesehatan gigi dan gusi. Mari kita kupas apa manfaat kayu siwak ini bagi kesehatan gigi…
Sejak zaman dahulu, manusia telah mengenal beberapa variasi teknik dalam membersihkan gigi. Mulai dari bulu ayam, duri landak, tulang hingga kayu dan ranting-ranting digunakan sebagai alat pembersih gigi. Masyarakat arab sebelum kedatangan islam, menggunakan akar dan ranting kayu dari pohon arak (Salvadora persica) yang hanya dapat tumbuh di daerah asia tengah dan afrika, yang belakangan diketahui sebagai alat pembersih gigi terbaik hingga saat ini. Setelah kedatangan islam, RasuluLlah menetapkan penggunaan siwak sebagai sunnah beliau yang sangat dianjurkan, bahkan beliau bersabda : “Seandainya tidak memberatkan ummatku, maka aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudhu” (Muttafaq ‘alaihi). Hal ini menunjukkan bahwa RasuluLlah adalah orang pertama yang mendidik manusia dalam memelihara kesehatan gigi.
Siwak berbentuk batang, diambil dari akar dan ranting segar tanaman arak (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon Arak adalah pohon yang kecil, seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, diameternya lebih dari 1 kaki, jika kulitnya dikelupas warnanya agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna coklat dan bagian dalamnya berwarna putih, aromanya seperti seledri dan rasanya agak sedikit pedas.
Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut. Kata siwak diambil dari kata arab ‘yudlik’ yang artinya adalah ‘memijat’ (yakni memijat bagian dalam mulut). Jadi siwak lebih dari hanya sekedar sikat gigi biasa. Selain itu, batang siwak memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walau dibawah tekanan yang keras, bahkan batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara pas untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dan menghilangkan plaque. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi.
Perlu diketahui, bahwa sisa-sisa makanan yang ada pada sela-sela gigi, menjadikan lingkungan mulut sangat baik untuk aktivitas pembusukan yang dilakukan oleh berjuta-juta bakteri yang dapat menyebabkan gigi berlubang, gusi berdarah dan munculnya kista. Selain itu, bakteri juga menghasilkan enzim perusak yang ‘memakan’ kalsium gigi sehingga menyebabkan gigi menjadi keropos dan berlubang. Bahkan, pada beberapa keadaan bakteri juga menghasilkan gas sisa aktivitas pembusukan yang menyebabkan bau mulut menjadi tak sedap.
Penelitian terbaru terhadap kayu siwak menunjukkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti :
-      Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive dan detergents yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi. Pada penggunaan siwak pertama kali, mungkin terasa pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard di dalamnya yang merupakan substansi antibacterial acids tersebut.
-      Kandungan kimia seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
-      Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.
-      Enzim yang mencegah pembentukan plaque yang menyebabkan radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara premature.
-      Anti decay agent (Zat anti pembusukan), yang menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Selain itu siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.
Sebuah penelitian terbaru tentang ‘Periodontal Treatment’ (Perawatan gigi secara periodik/berkala) dengan mengambil sample terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para ilmuwan dari King Abdul Aziz University, Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal treatement untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada studi yang dilakukan terhadap negara-negara lain, hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan siwak berhubungan sangat erat terhadap rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap ‘Periodontal Treatment’.
Penelitian lain dengan menjadikan bubuk siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran bubuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kebersihan gigi secara sempurna adalah pasta gigi dengan butiran-butiran bubuk siwak, karena butiran-butioran tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Sehingga banyak perusahaan-perusahaan di dunia menyertakan bubuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO pun turut menjadikan siwak termasuk komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan. Mari kita budayakan hidup sehat dengan bersiwak…!!! (Ibnu Burhan)

Daftar Pustaka :
-          Al-Mostehy, DR M. Ragaii, and friends, journal of SIWAK AS AN ORAL HEALTH DEVICE, Kuwait, 1991.
-          K.,Almas, abstract journal of THE EFFECT OF SALVADORA PERSICA EXTRACT (MISWAK) AND CHLOREXIDINE GLUCONATE ON HUMAN DENTIN, Department of Preventive Dental Sciences, King Saud University College of Dentistry, Riyadh, Kingdom of Saudi Arabia, 1995.
-          Lafi,T. and Ababneh,H. abstract journal of THE EFFECT OF THE EXTRACT OF THE MISWAK (CHEWING STICK) USED IN JORDAN AND THE MIDDLE EAST ON ORAL BACTERIA, Department of Periodontology, University of Wales College of Medicine Dental School, Carddiff, United Kingdom, 1995.
-          Hardie,J. and Ahmed,K. abstract journal of THE MISWAK AS AN AID IN ORAL HYGIENE, J. Philipp Dental Association, 1995.
-          Al-Khateeb,TL and friends, abstract journal of PERIODONTAL TREATMENT NEEDS AMONG SAUDI ARABIAN ADULTS AND THEIR RELATIONSHIP TO THE USE OF MISWAK, King Abdul Aziz University, Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia, 1991.


RUJUKAN BERBAHASA INGGRIS:

·         Allam, H.H., Ecological and Biological Studies on Certain Pollinators in Reclaimed land, Ph. Thesis, Faculty of Agriculture, Cairo University, 1973.                                                              ]
·         Bohart, G.E. and W.P. Nye (1956), Kinds of Bees Gleanings in Culture 84:331‑333,337.                                                                                                                                                                      1968.
·         Butler, C.G., The World of the Honeybee; London: Collins, 1954, revised, 1974, hal 223.
·         Crane E, The World's Beekeeping; Past and Present in Hive and the Honeybee (Hamilton, Illionois:Dadant & Sons, 1975), hal 1‑18                                                                                         
·         Crane E, The Shape, Construction and Identification of Traditional Hives, Bee World, 58 (3), hal 119‑127                                                                                                                                            
·         Crane, E.,Agriculture. IBRA (1980), hal 34.
·         Crane, E. and. A. J. Graham, (1985), Bee Hives of the Ancient World‑1, Bee World 66(l), hal 23‑41.
·         Crane, E. and. A. J. Graham, Bee Hives of the Ancient World‑2, Bee World 66(2), hal 148‑170.
·         Crane, E., (1980), Bees and Beekeeping (Oxford:Heinemann News, 1980),hal. 514.
·         Dadant and Sons, The Hives and the Honeybee (Hamilton, Illinois, 1975), hal 740.
·         El Badawy, A.A., Studies on Family Megachilidae in the New Valley with special Referenee to Active Pollinator, Ph.D. thesis, Faculty of Agriculture, Cairo University, 1975.
·         El Berry, A.A., Ecological and Biological  Studies on the Wild Bees of Osmia sp., Ph.D. Thesis, Faculty of Agriculture, Eairo University, 1968.
·         El Hefny, A.M., Pollinators of the Family Halictidae found in Egypt with Special Reference to the Morphology and Biology of Nomia ruficornis sp., ­Ph‑DThesis, Faculty of Agriculture, Eairo University, 1974.
·         Hobs,, G.A., Ecology of Leaf Cutter Bee Megachile perihirta (Hymenoptera‑Megaechilidae) in Relation to Production of Alfalfa Seed., Canadian Ent,88 (1956),hal 625‑631.
·         Krombein, K.V, Trap‑nesting Wasps and Bees. Lifet Histories, Nests and Associates. Washington D.E.: Smithsonian Press, 1967.
·         Linsley, E.G.,Ecology of Solitary Bees in Hilgardia, 27 (10). 1958, hal 453‑559.
·         Linsley, E.G. and RD. Hurd, Ecological Observations on Some Bees of South ern Arisona. and New Mexico (Hymenoptera)., Ent. New 70, 1959, hal 6368.
·         Malyschev, S.I,. The Nesting Habits of Solitary Bees, A Comparative Study, Eos 11(3), 1936, hal. 210-309.
·         Mazeed, M.M., Ecological and Biological Studies on family Megachilidae, Pseudomegachile, Ph.D. Thesis, Faculty of Agriculture, Cairo University, 1968
·         Mc. Gregor, S,E, Insect Pollination of Cultivated Crop Plants, USA Agriculture Handbook, 1976, hal.411
·         Michener, E.D., The Social Behaviour of the Bees, A Comparative Study, (Cambridge:Oxford University Press,1974) hal 404
·         Morse, R.A., The Complete Guide of Beekeeping, (New York: E.P. Dutton, 1980), hal 224.


RUJUKAN BERBAHASA ARAB

I. Al-Qur’an Al-Karim
II. Buku-buku hadits :
  • Al-Imam al-kabir Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhori, Shohihul Bukhori ma’a syarhihi li Ibni Hajar al-Asqolani, ath-Thoba’ah as-Salafiyyah, Kairo, 1380 H.
    • Kitab al-Ath’imah wa al-Asyrobah bab al-Halwaa’ wa al-asl
    • Juz 10 – kitab ath-Thib
  • Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal – Nasyru al-Maktabah al-Islamiy – Beirut 1380 H.

III. Buku-buku Tafsir:
  • Al-Allamah abu al-Fadhil Syihaabuddin as-sayyid Mahmud al-Aalusiy al-Baghdaadiy – Ruuhul Ma’aani fi Tafsiril Qur’an al-Adhim wa sab’u al-Matsaanii –juz 13- Dar Ihyaa’ at-Turots al-Islaamiy – Beirut – Libanon.
  • Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thobary – Jami’ al-Bayaan ‘an Ta’wil al-Qur’an –Juz 14- Cetakan ke-3- Mathbu’ah Musthofaa al-Baabi al-Halabi- Mesir
  • Al-Imam al-Fakhru ar-Razi – At-Tafsir al-Kabir –juz 19- Cetakan ke-2- Dar al-Kutub al-Ilmiyyah- Teheran.
  • Muhammad Jamaluddin al-Qosimi –Tafsir al-Qosimi/Mahasin at-Ta’wil –juz 10- ‘Isa al-Babi al-Halabi- Mesir.
  • Nahiruddin Abi Sa’id al-Baidhowi – Anwaaru at-Tanzil wa Asrori at-Ta’wil/Tafsir al-Baidhowy- dar al-Jail.
  • Asy-Syaikh Abu Ali al-Fadhli bin al-hasan at-Thobrosy –Majmu’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an- Juz 13- 1971 M. –Dar Maktabah al-Hayat- Beirut.
  • Abdul Karim al-Khathib –at-Tafsir al-Qur’an lil Qur’an- Kitab IX- Dar al-Fikr al-Arabiy- Kairo
  • Ahmad Musthofa al-Maraghy –Tafsir al-Maraghy- Juz 13- Kairo
  • Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshory al-Qurthuby –al-Jami’ li ahkaam al-Qur’an- Juz IX- 1966M- Dar Ihya’ ats-Turots al-Arabiy- Beirut – Lebanon.
  • Muhammad Abdul Mun’im al-Jamal –at-Tafsir al-Farid lil Qur’an al-Majid- Dar Kutub al-Jadid.
  • Atsiruddin Abi Abdillah Hayyan al-Andalusy al-Ghirnaathy- at-Tafsir al-Kabir/al-bahr al-Muhith- Juz V- Maktabah wa Mathobi’ an-Nashrul Hadits- Riyadh- Kerajaan Arab Saudi.
  • Muhammad Ali ash-Shobuni- Shofwatu at-Tafasir- bagian IV Surat an-Nahl- Dar al-Qur’an al-Karim- Beirut.
  • Al-Hafidh Ibnu Katsir- Mukhtashar Tafsir Ibni Katsir- Ikhtishor wa Tahqiq Muhammad Ali ash-Shobuni- Jilid II Surat an-Nahl- Dar al-Qur’an al-Karim- Beirut.
  • Sayyid Quthb- Fi Dhilalil Qur’an- Jilid IV Surat an-Nahl- Dar asy-Syaruq.

IV. LEKSIKON
Al-Imam Al-Allamah Abu al-Fadhil Jamaluddin Muhammadbin Mukarram bin Manshur al-Afriqi al-Mishri- Lisan al-‘Arab- Jilid XI- Dar al-Fikr- Beirut.

V. RUJUKAN BERBAHASA ARAB LAINNYA
  • Al-Bimbi, Muhammad Ali, Nahl as-Shillu wa Mintajatuhu, cetakan V, Dar al-Ma’arif al-Mishriyah, Kairo, 1989 M.
  • Al-Hafni, Tarbiyatu an-Nahl wa intaaju ash-Shillu, Markaz an-Nasyrul ‘Ilmiy, Universitas Malik Abdul Aziz, Jeddah, 1994 M.
  • Abdus Salam, Ahmad Luthfi, Tarbiyatu an-Nahl wa Idaratu al-Manahil fil Mishri wa biladil arabiyyah- cetakan IV- Maktabah al-Anjilu al-Mishriyah, Kairo, 1990 M.
  • Al-Himshi, Muhammad Hasan, an-Nahlah Tusabbihu Allah, Dar ar-Rasyid, Damaskus, 1990 M.
  • Wafa, Abdul Kholiq, Nahl ash-Shillu wan Nihaalah, Dar ath-Thoba’ah al-Haditsah, Kairo, 1963 M.
  • Al-Bimbi, Muhammad Ali, an-Nahlu as-Shillu wa Mintajatuhu, Dar al-Ma’arif, Kaior, 1984 M.
  • Al-Qir, Muhammad Nizar, ash-Shillu fiihi syifa’un Naas, al-Maktab al-Islamiy- Beirut, 1984 M.
(Dinukil dari “Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah rentang IPTEK”, Penerbit Gema Insani Press, halaman 199-231)

keajaiban lebah bag.8


Sel‑sel Lebah Madu
Sel yang digunakan oleh lebah adalah bidang sempit rongga kosong yang mempunyai pintu masuk di tengah‑tengah antara kedua ujungnya. Kedua ujung barangkali ditutup dengan dua penyanggah yang cocok terbuat dan kayu. Bila terdapat keretakan‑keretakan maka ditutup dengan plester dari tanah. Pada beberapa daerah, sebagai pengganti sanggahan dari kayu digunakan bulatan‑bulatan batu yang disiapkan sesuai besar lubang. Bulatan‑bulatan batu ini ditemukan sewaktu dilakukan pekerjaan penggalian di berbagai daerah di kota Maya.
Sel sel terbuat dari tanah yang tidak dihancurkan yang berasal antara 2.400 sampai 2.133 tahun sebelum masehi. Terdapat juga sel‑sel yang terbuat dari tanah‑tanah yang sudah dihancurkan berbentuk wadah sedang dengan panjang 36 cm dan rata‑rata garis tengahnya pada kebanyakan potongan 14 cm di mana terdapat bukaan dengan garis tengah 2 cm pada lingkaran dengan ujung yang berhadapan dengan mulut bukaannya. Akan tetapi wadah wadah ini barangkali digunakan untuk mengumpulkan buangan karena ia kecil dan tidak cocok menjadi sel yang sebenamya.

Ditemukan sel‑sel yang tidak cocok menjadi sel yang sebenamya. Ditemukan sel‑sel yang merupakan wadah‑wadah besar yang terbuat dari tanah liat yang tidak dihaluskan (coarse pottary) yang mempunyai bukaan yang luas yang dinamakan sel‑sel tanah liat (pottary hives), berasal dari 500 sampai 600 tahun sebelum masehi.
Sel‑sel yang ditemukan di utara Eropa bersifat tradisional, merupakan keranjang‑keranjang terbuat,dari ranting‑ranting yang dijalin, kemudian dari jerami yang dijalin atau pokok rumbuh‑tumbuhan lainnya yang dkenal dengan nama skeps, berasal dari abad pertama sampai abad ketiga sebelum Masehi.

Fakta tentang Sel‑sel yang masih digunakan sampal sekarang
Yang menimbulkan ketakjuban adalah sel‑sel itu tetap atau tidak berubah atau sel‑sel tradisional yang berjalan selama beratus‑ratus tahun, barangkali beribu‑ribu tahun. Cara penyusunan, bahan besar dan bentuknya umumnya tidak mengalami perubahan selama berabad‑abad. Sel‑sel dari tanah liat biasanya digunakan pada berbagai daerah di Timur jauh seperti di Mesir pada zaman kuno, seperti juga pada masa sekarang.
Orang Romawi menyebutkan sembilan macam sel yang segi‑seginya banyak mereka terangkan. Mereka juga menerangkan bagaimana sel‑sel ini dibuat, yang semuanya berdasarkan sistem horisontal yang sering diletakkan di atas mastaba (ban luar) atau dipahatkan ke dalam dinding, kadang‑kadang ditempatkan dua baris atau tiga baris bertingkat. Daftar yang dibuat oleh Crane (1983) berikut ini menjelaskan hal itu:
  1. Sel‑sel terbuat dari pohon kayu yang berlubang
  2. Sel‑sel dari pohon quercus suber
  3. Sel‑sel dari kayu papan
  4. Sel‑sel dari ranting‑ranting yang dijalin
  5. Sel‑sel dari pokok tumbuh‑tumbuhan yang kokoh di samping pokok yang lain
  6. Sel‑sel terbuat dari kotoran hewan
  7. Sel‑sel dari tanah yang dihaluskan (bahan porselin atau bahan tanah liat)
  8. Sel‑sel dari batu merah
  9. Sel‑sel transparan dari bahan tanduk dan mika
  10. Sel‑sel dari tanah yang tidak dihaluskan. Sel‑Sel jenis ini tidak diterangkan dalam tulisan‑tulisan orang Romawi.
Faktor‑faktor yang berhubungan dengan penggunaan sel‑sel
1. Pemilihan bahan
Setelah pengkajian mendalam terhadap sel‑sel tradisional di berbagai tempat berbeda di dunia, diketahui bahwa bumi dengan berbagai bentuknya (tanah, tanah liat, batu‑batuan) merupakan bahan untuk membuat sel‑sel lebah di negeri-negeri yang kering di mana tidak tersedia kayu.
Orang Inggris berusaha membuat sel‑sel dari kayu dan bahan‑bahan yang berasal dari tumbuh‑tumbuhan di mana pada masa lalu sel‑sel dibuat dari cabang-cabang pokok kayu yang gembur karena mudah untuk menghancurkan dan melumatkannya.
2. jenis
Tujuan dari membangun sel, khususnya jenis Apis mellifera (lebah madu), harus dapat menyiapkan yang berikut ini:
a.  Bahan baku pembuatan, komposisi dan kekerasannya yang bertujuan menjaga lebah dari kondisi‑kondisi udara, yang ia buat dari bahan selain metal.
b.  Volume, volume sel-sel berkisar antara 40‑50 liter, sekalipun sebagian volume sel mencapai separuhnya, yang digunakan untuk menarik buangan.
c.   Bukaan pintu. masuk lebah: Biasanya antara 1‑2 cm dan ini barangkali pada sel atau pada penyanggah yang digunakan untuk menutup mulut bukaan. Barangkali juga terdapat bukaan untuk ventilasi. Lebah membutuhkan sebuah bukaan yang tidak kurang dari 8 cm2.
c.
Sedangkan lebah jenis Apis cerana, maka sel‑selnya berciri mirip dengan sel‑sel terdahulu, khususnya jenis Apis mellifera, namun ia mempunyai volume lebih kecil mencapai dua pertiga volume sel terdahulu dan isinya antara 10‑15 liter.
Dari uraian terdahulu dapat dikatakan bahwa sel‑sel pertama yang menyiapkan untuk menempatkan lebah madu adalah sel‑sel sangat sederhana yang mirip dengan sarang alaminya, yang dibuat adakalanya dari dahan pohon setelah membuat rongga di dalamnya dan menutupnya dengan tutup yang tidak rapi dari atas, di mana terdapat bukaan untuk keluar masuk lebah, atau ia membuat dalam bentuk pipa‑pipa dari bahan porselin atau tanah liat dan biasanya tanah. Lalu sel‑sel ini berkembang menjadi sel‑sel berbentuk kotak yang tertutup yang bekerja seperti dalam bentuk dahan kayu, tetapi terdiri dari empat dinding. Kemudian digunakan skep yang terbuat dari jerami yang dijalin atau dahan‑dahan lunak dari tumbuh‑tumbuhan semak‑semak. Dalam beberapa arah untuk tujuan itu sendiri, lebah sampai menggunakan sel kayu yang mempunyai kamar‑kamar yang berisikan roda‑roda yang bergerak. Kemajuan perhatian petemak lebah sampai dengan membangun sel dengan rekor intemasional untuk penggunaan runggal dalam semua koloni. Sel‑sel juga dibuat dari sisa‑sisa pertanian seperti jerami, serpihan tebu dan lain‑lain.

Juga dalam sarang lilin yang dibangun lebah di dalam tempat tinggalnya untuk meletakkan telur dan menyimpan bahan makanan merupakan contoh atas kecanggihan penciptaan Maha Pencipta yang dianugerahkan‑Nya kepada lebah. Sarang lilin yang berisikan ribuan lubang bersegi enam digunakan sebagai tipuan untuk mengasuh anak‑anak lebah atau gudang‑gudang untuk menyimpan madu dan bibit pembuah. Suatu yang menakjubkan, bahwa di samping ia disiapkan betul‑betul untuk pekerjaan ini, maka yang lebih menakjubkan lagi adalah bentuk persegi enam dari lubang yang membutuhkan jumlah bahan bangunan yang lebih sedikit, selain juga ia cocok untuk pertumbuhan anak lebah yang dipelihara dalam lubang‑lubang ini. Bentuk segi enam adalah bentuk geometrik yang terbaik yang menghasilkan kekosongan‑kekosongan perantara dan bahwa jumlah lubang dari kekosongan‑kekosongan ini pada luas tertentu melebihi jumlah bentuk‑bentuk lain pada luas yang sama.
Kita tidak mempunyai sikap lain kecuali tertegun menyerah di depan kemampuan I’jaz (kemukjizatan) Al‑Qur'an ini, sewaktu kita menemukan bahwa lebah madu membangun berbagai lubang di mana terdapat lubang‑lubang kecil yang dalam satu inci persegi berisikan 28,27 lubang persegi enam. Ini digunakan untuk anak lebah pekerja dan penyimpan madu. Ada juga yang sedikit lebih besar yang digunakan untuk menjaga bibit jantan yang dalam satu inci persegi terdapat 18,84 lubang bersegi enam.

Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku. ‑Engkau memberi ilham kepada dunia yang telah dan masih saja menakjubkan makhluk Engkau yang paling canggih. Ilmu Engkau Maha Mendahului ilmu manusia, makhluk Engkau yang paling lemah. Bukankah pada tempat tinggal Lebah terdapat krcasi dan Ilham? Siapakah yang mengajarkan kepada setiap jenis lebah supaya mengambil bahan baku tertentu sebagai tempat tinggal dan tidak suka dengan bahan pengganti yang lain? Ia adalah Allah, Tuhan seluruh alam, pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah dengan firmannya:
"Itu adalah Allah, Tuhan seluruh alam, Pencipta segala sesuatu. Karena itu, sembahlah Ia!" (QS 6:102).
"Tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah? .... " (QS 7: 185).
"Tidakkah mereka mendalami Al‑Qur'an. Sekiraranya berasal dari selain Allah, tentu mereka akan banyak menemukan berbagai kontradiksi di dalamnya!" (QS 4:82).
Terakhir sekali, pada rumah‑rumah lebah dan pada dunia lebah terdapat keajaiban dan kreativitas yang menyingkap rahasia kemukjizatan ilmiah yang diturunkan dalam Al‑Qur'an Al‑Karim, yang merupakan mukjizat Islam yang abadi dan kekal, yang berisikan ayat‑ayat dan petunjuk‑petunjuk yang selalu mengarahkan manusia kepada iman dengan Allah, Tuhan seluruh alam, dan kepada Islam yang cocok untuk segala ruang dan waktu.

Maha Suci Allah yang telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Pujian bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dan shalawat atas junjungan kita Muhammad, Nabi yang ummi, serta atas keluarga dan Seluruh sahabat beliau.