Jumat, 01 Maret 2013

keajaiban lebah bag.6


Bentuk Sel
Sel‑sel dapat diterangkan dengan salah satu dari dua cara:
  1. Sesuai panjang lorong masing‑masing.
  2. Sesuai hubungan kamar‑kamar dengan ruangan yang melingkarinya.


Rongga Kamar‑Kamar
Besar rongga atau kekosongan sel sampai ke batas tertentu dipengaruhi oleh besamya lebah yang membuat sel. Besarnya juga ditentukan oleh faktor-faktor selain itu. Secara umum kamar‑kamar dapat dibedakan antara kamar-kamar yang kecil sekali, kamar‑kamar yang luas dan kamar‑kamar biasa yang berukuran sedang. Pada lebah Teralonia malvae, sel itu kecil sekali sampai dipenuhi sama sekali oleh anak‑anak lebah yang telah dewasa dan bila anak lebah ini diangkat, maka mustahil mengcmbalikannya lagi ke dalam sel. Sementara lebah Dasypoda plamipes tidak memenuhi kecuali sebagian kecil saja dari selnya.

Tampaknya di antara faktor‑faktor utama yang penting yang mempengaruhi volume kekosongan atau rongga sel adalah cara menyuplai makanan (jenis makanan dan kuantitas makanan).
Arah Kamar‑kamar
Biasanya keadaan sel dalam ruangan dipandang menurut arah poros bujur dalam hubungannya dengan poros vertikal. Berdasarkan ini, maka sel itu vertikal, miring dengan sisi vertikal dan dengan demikian miring ke bawah atau ke atas atau horisontal.
Secara umum, sel‑sel lebah yang sejenis biasanya diarahkan dengan cara tertentu. Di antara contoh lebah penyendiri yang membangun kamar‑kamar horisontal atau mendekati horisontal adalah lebah teralonia dan nomia. Sedangkan arah kamar lebah bermasyarakat bombus dan trogona dipengaruhi oleh tempat‑tempat membuat sarang.
Urutan Pembuatan Kamar‑kamar
Lebah secara umum membangun sel‑sel atau kamar‑kamamya menurut salah satu dari dua sistem. Pertama, ia membangun kamar satu demi satu sampai selesai. Kedua, ia membangun kamar‑kamar secara keseluruhan dalam waktu yang sama. Sering sekali bahwa jenis lebah penyendiri membangun sarangnya dengan cara pertama dan lebah jenis bermasyarakat membangun sarangnya dengan cara kedua. Berikut ini adalah berbagai cara untuk membagi kamar-kamar atau sel‑sel:
A. Menurut Fungsi Kamar
1. Kamar yang ditempati terbagi kepada:
a.     Kamar Jantan
b.     Kamar Betina
c.      Kamar Pembantu
d.     Kamar Kelompok
2. Kamar  yang tidak ditunggui terbagi kepada:
a. Kamar untuk gudang
b. Kamar tambahan

B. Menurut Bentuk:
1. Panjang
2. Pendek
3. Berbentuk beraturan
4. Berbentuk tidak beraturan
5. Dua sisinya sama
6. Porosnya sama
7. Tidak sama

C. Menurut Bahan Pembuat Bangunan:
1. Bahan Nabati
2. Bahan Metalik
3. Bahan Hewani

D. Menurut Rongga Sel:
1. Sempit
2. Cukup Luas
3. Luas

E. Menurut Arah:
1. Horisontal.
2. Miring ke bawah
3. Vertikal
4. Miring ke atas

E Menurut Urutan Pembuatan:
1. Sel demi sel
2. Sejumlah sel dalam waktu yang sama

Suplai Makanan untuk Sarang

Lebah jenis penyendiri menyuplai kamar‑kamamya dengan makanan secara sempuma dan sering sekali dengan jenis‑jenis makanan yang berasal dari bahan-bahan nabati seperti nektar dan bibit pembuah dan sering juga dicampur dengan cairan‑cairan dari kelenjar air ludah. Pada jenis lebah bermasyarakat juga menyuplai kamar‑kamamya dengan cara ini, tetapi dengan beberapa. pengecualian seperti dalam hal makanan raja yang disemprotkan oleh lebah pembantu dari kelenjar pada sel‑sel di mana ratu‑ratu lebah madu dibesarkan, yang menggantikan sama sekali fungsi nektar dan bibit‑bibit pembuah. Lebah biasanya mendapatkan bahan karbohidrat dari nektar dan mendapatkan bahan protein dari bibit pembuah atau cairan dari berbagai kelenjar.
Penutupan Sel (Kamar)
Setelah selesai menyuplai sel dengan makanan dan menempatkan telur di dalam sel, lebah penyendiri biasanya menutup sel itu. Sesuai dengan kebiasaan yang banyak ditemukan di antara lebah‑lebah penyendiri, sel langsung ditutup setelah meletakkan telur dalam sel itu.

Sesuai dengan penetrasinya terhadap kelembaban, maka tutup sel dapat digolongkan kepada dua jenis:
1.  Jenis yang dapat dimasuki oleh kelembaban seperti pada lebah jenis Halictus, Andrena dan Osmia.
2.  Jenis yang tidak dapat dimasuki oleh kelembaban, seperti pada lebah jenis Colletes, Chalicodoma dan Anthophara.

Menurut tingkatan keserasian, tutup itu juga dapat digolongkan kepada dua jenis:
1. Pintu Terkunci
Terdiri dari bagian‑bagian atau bagian‑bagian kecil terpisah yang tidak bersenyawa yang teronggok secara tidak beraturan pada gerbang masuk sel. Tutup jenis ini jarang sekali kelihatan, kecuali pada lebah jenis Halictus dan Anthidium.
2. Tutup Menyatu
Terdapat pada hampir semua jenis lebah. Ia terdiri dari bagian‑bagian kecil yang disusun dengan cara tertentu dan sebagiannya biasanya bergenyawa atau terdiri dari bagian‑bagian lengkap dari berbagai bahan seperti pada lebah Colletes, Andrena dan Megachile.
Setelah menutup sel sebagian jenis lebah membuat berbagai jenis hambatan untuk sampai kepada sel. Misalnya dengan membangun onggokan‑onggokan dari partikel‑partikel yang biasanya ditinggalkan tanpa melekat dan tanpa aturan sehingga memenuhi jalan menuju ke sel dan dengan demikian menghambat lalu lintas lebah yang lain.
Jumlah, Kamar dalam Sarang
Sedikit sekali lebah jenis penyendiri yang membuat sarang terdiri dari satu sel saja. Contoh penting dari lebah jenis ini adalah Osmia papevaria juga terdapat beberapa jenis yang membuat sarang terdiri dari dua kamar, kamar pertama sebagai kamar utama dan kamar kedua sebagai kamar tambahan.
Jumlah kamar berbeda sesuai dengan perbedaan kondisi luar seperti besar kamar dan bidang tempat membuat sarang. Ia juga berbeda sesuai dengan per­bedaan kondisi dalam seperti instink membangun sendiri atau usia lebah. Dalam keadaan‑keadaan seperti ini, jumlah kamar biasanya antara 5 dan 6 kamar. Jumlah sampai 10 kamar pada lebah jenis Andrena binaculata, 15 kamar pada lebah jenis Chalicodma muraria dan Osmia, 17 kamar pada jenis lebah kayu kecil Ceratina, dan 19 kamar pada lebah kayu besar Xylcopa. Semua angka ini tentu saja
menunjuk sarang lebah penyendiri yang dibangun oleh individu tunggal. Sedang­kan sarang‑sarang bertingkat‑tingkat yang dibangun oleh sejumlah individu secara khusus lebah bermasyarakat yang telah kita terangkan, sering terdiri dari sejumlah kamar yang sampai ratusan atau ribuan buah.
Urutan Kamar dalam Sarang
Biasanya susunan kamar sudah tertentu. Kamar‑kamar itu mungkin betul-betul terpisah, atau sedikit saling berhubungan, atau berganda. Bila hubungannya sederhana, terdapat satu jalan menuju kamar, dan bila berhubungan ganda, barangkali terdapat dua jalan atau lebih. Pada lebah penggali (digger bees), maka kamar‑kamar sarang berhubungan antara satu dengan yang lain melalui terowongan utama menuju kamar‑kamar dan melalui terowongan‑terowongan sampingan untuk setiap kamar terpisah. Urutan menurut cara ini bersimpang siur. Dalam kesimpangsiuran itu dapat dibedakan mana jalan‑jalan yang maju ke depan, yang mundur ke belakang dan yang tetap bila diukur dengan kedalaman dan panjang terowongan utama ketika jumlah sel (kamar) bertambah.
Contoh kesimpangsiuran yang banyak adalah pada lebah Halictus. Hal itu karena hubungan antara sel‑sel pertambahan jumiah dan terowongan utama tidak jelas. Contoh kesimpangsiuran yang maju ke depan adalah seperti yang terdapat pada lebah Systropha. Contoh kesimpangsiuran yang mundur ke belakang adalah seperti yang terdapat pada lebah Colletes cunicitarius. Juga mudah ditemukan kesimpangsiuran mengikuti putaran jarum jam atau melawannya. Namun ini tidak begitu penting bila dibandingkan dengan cmpat cara kesimpangsiuran yang telah disebutkan, karena terdapat pilihan di antara beberapa cara ini, bahkan di antara puak‑puak dari satu jenis.
Juga terdapat perbedaan mengenai cara urutan kamar pada level horisontal dan vertikal dalam sarang yang sama. Terdapat kamar‑kamar yang membuat sudut dengan level horisontal dan vertikal serta pada beberapa keadaan sudut yang dibuat itu melindungi sel‑sel pada kedua level secara permanen dalam satu sarang. Barangkali pula hubungan antara kamar‑kamar itu bersifat sempuma sehingga hilang sama sekali dinding sel yang membujur, seperti pada sarang lebah (qarsh al‑asal;honeycomb).

Sel‑sel juga tersusun antara cara urutan sarang lebah dan cara urutan garis atau bersimpangsiur. Pada lebah Osmia coerulescens yang mengisi ruang sarang, maka kamar‑kamar sering berhubungan antara satu dengan yang lain. Itu tidak hanya pada jalan ujung saja, seperti pada keadaan urutan garis yang lurus, tapi juga melalui jalan dinding yang membujur, seperti pada keadaan sarang lebah. Menurut cara garis lurus, ini dinamakan berbaris banyak. Pada lebah Osmia fucunda dengan mengesampingkan besar dan bentuk ruang (seperti pada urutan‑sarang lebah), sering saling berhubungan antara satu dengan yang lain melalui garis lurus ini disebut himpunan luruh. Diamati bahwa urutan kamar‑kamar pada sarang lebah bertahap dalam bersimpangsiuran, lebih banyak dari apa yang ada pada garis lurus.

Bentuk yang jarang ini terdapat dalam sarang‑sarang di mana kamar‑kamar dihubungkan secara teratur melalui sisi‑sisi yang terdapat pada ruang. Inilah yang disebut kamar pendidikan (penjagaan) yang pada dasarnya meru­pakan perekatan berbagai terowongan samping yang pendek. Pada sarang‑sarang ini sel‑sel tersusun pada kamar‑kamar. Sistem seperti ini terdapat pada lebah Halictus dan pada beberapa jenis lebah yang membuat sarang madu pada tanah.
Penutupan Sarang
Setelah sel‑sel selesai dibangun dalam sarang, maka lebah menutup sarang melalui sebuah tutup yang disebut tutup sarang. Ini terjadi pada semua jenis dan bangsa lebah selain jenis Ceratina dan Xylocopa. Kedua jenis ini dikecualikan dari kaidah. Hal itu karena lebah akan terus bekerja di sarang sampai tenaganya habis. Dengan demikian, lebah itu akan tetap di gerbang masuk supaya ia dapat mempertahankannya sebisa mungkin.
Di samping adanya proteksi alami bersifat mekanis, seperti ditemukan pada lebah bermasyarakat, terdapat apa yang disebut kuburan lebah yang masih hidup seperti pada jenis Lithurgus. Ia juga tidak menutup sarang dan tutup jarang yang diletakkan dari dalam sehingga mengurung lebah itu sendiri didalam sarang. Di antara contoh‑contohnya adalah apa yang dilakukan oleh lebah Andiena ovina yang membangun sarang madu di tanah, kemudian lebah itu meninggalkan sarang pada akhimya.
Tutup sarang dan kamar terbagi tiga:
1. Tutup yang kokoh
2. Tutup yang tidak kokoh
3. Tutup bercampur
(1)Tutup yang kokoh adalah melalui rekatan partikel‑partikel antara yang satu dengan yang lain, yang sering mencakup partikel‑partikel lebar yang terpisah satu sama lain di akhir sel dengan adanya jarak‑jarak yang kosong. Keadaan seperti ini terdapat pada lebah menetap dan lebah Mason, seperti pada Osmia globicola dan Chalicodoma.
(2)Tutup jenis kedua,dibangun dari partikel‑partikel yang tidak melekat dengan partikel lain, sekalipun bersenyawa seluruhnya, yang tampak seperti onggokan yang menyatu pada gerbang masuk sarang. Sistem ini terdapat pada lebah penggali seperti Andrena, tetralonia dan lebah Antrophora dan terdapat dalam persentase kecil pada lebah Ceratina.
(3) Jenis ketiga, campuran menghimpun antara yang kokoh dan tidak kokoh.Ia mencangkup onggokan tanah, partikel‑partikel yang bertaut, dipadatkan atau lainnya. Pada beberapa keadaan, ia berhubungan dengan suatu kum­pulan atau sistem tertentu dari pintu‑pintu. Contohnya adalah lebah Antrophora acervarum dan lebah Osmia leucomelaena.
Tutup sarang yang tidak kokoh tersusun dari bahan yang sama yang menjadi komposisi tutup kamar pada sarang. Perbedaan satu‑satunya, pada pintu sarang, bahan pada pintu sarang diambilkan dari bagian depan sarang di mana tidak mungkin membuat terowongan baru. Ini mengakibatkan adanya penurunan tajam pada salah satu sisi galian atau kamar di permukaan, seperti pada Tetraloniamalvae dan Anthaphera accervorum................................................................
.....................................
.................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar