Bentuk Sel
Sel‑sel
dapat diterangkan dengan salah satu dari dua cara:
- Sesuai panjang
lorong masing‑masing.
- Sesuai hubungan
kamar‑kamar dengan ruangan yang melingkarinya.
Rongga Kamar‑Kamar
Besar rongga atau kekosongan sel sampai ke batas tertentu
dipengaruhi oleh besamya lebah yang membuat sel. Besarnya juga ditentukan oleh
faktor-faktor selain itu. Secara umum kamar‑kamar dapat dibedakan antara
kamar-kamar yang kecil sekali, kamar‑kamar yang luas dan kamar‑kamar biasa yang
berukuran sedang. Pada lebah Teralonia
malvae, sel itu kecil sekali sampai dipenuhi sama sekali oleh anak‑anak
lebah yang telah dewasa dan bila anak lebah ini diangkat, maka mustahil
mengcmbalikannya lagi ke dalam sel. Sementara lebah Dasypoda plamipes tidak memenuhi kecuali sebagian kecil saja dari
selnya.
Tampaknya di antara faktor‑faktor utama yang penting yang
mempengaruhi volume kekosongan atau rongga sel adalah cara menyuplai makanan
(jenis makanan dan kuantitas makanan).
Arah
Kamar‑kamar
Biasanya keadaan sel dalam ruangan dipandang menurut arah
poros bujur dalam hubungannya dengan poros vertikal. Berdasarkan ini, maka sel
itu vertikal, miring dengan sisi vertikal dan dengan demikian miring ke bawah
atau ke atas atau horisontal.
Secara umum, sel‑sel lebah yang sejenis biasanya diarahkan
dengan cara tertentu. Di antara contoh lebah penyendiri yang membangun kamar‑kamar
horisontal atau mendekati horisontal adalah lebah teralonia dan nomia.
Sedangkan arah kamar lebah bermasyarakat bombus
dan trogona dipengaruhi oleh tempat‑tempat
membuat sarang.
Urutan Pembuatan Kamar‑kamar
Lebah secara umum membangun sel‑sel atau kamar‑kamamya menurut
salah satu dari dua sistem. Pertama,
ia membangun kamar satu demi satu sampai selesai. Kedua, ia membangun kamar‑kamar secara keseluruhan dalam waktu yang
sama. Sering sekali bahwa jenis lebah penyendiri membangun sarangnya dengan
cara pertama dan lebah jenis bermasyarakat membangun sarangnya dengan cara
kedua. Berikut ini adalah berbagai cara untuk membagi kamar-kamar atau sel‑sel:
A.
Menurut Fungsi Kamar
1. Kamar yang ditempati terbagi kepada:
a. Kamar Jantan
b. Kamar Betina
c.
Kamar Pembantu
d. Kamar Kelompok
2. Kamar yang tidak
ditunggui terbagi kepada:
a. Kamar untuk gudang
b. Kamar tambahan
B. Menurut Bentuk:
1. Panjang
2. Pendek
3. Berbentuk beraturan
4. Berbentuk tidak beraturan
5. Dua sisinya sama
6. Porosnya sama
7. Tidak sama
C. Menurut Bahan Pembuat Bangunan:
1. Bahan Nabati
2. Bahan Metalik
3. Bahan Hewani
D. Menurut Rongga Sel:
1. Sempit
2. Cukup Luas
3. Luas
E. Menurut Arah:
1. Horisontal.
2. Miring ke bawah
3. Vertikal
4. Miring ke atas
E Menurut Urutan Pembuatan:
1. Sel demi sel
2. Sejumlah sel dalam waktu
yang sama
Suplai Makanan untuk Sarang
Lebah jenis penyendiri menyuplai kamar‑kamamya dengan makanan
secara sempuma dan sering sekali dengan jenis‑jenis makanan yang berasal dari
bahan-bahan nabati seperti nektar dan bibit pembuah dan sering juga dicampur
dengan cairan‑cairan dari kelenjar air ludah. Pada jenis lebah bermasyarakat
juga menyuplai kamar‑kamamya dengan cara ini, tetapi dengan beberapa. pengecualian
seperti dalam hal makanan raja yang disemprotkan oleh lebah pembantu dari
kelenjar pada sel‑sel di mana ratu‑ratu lebah madu dibesarkan, yang
menggantikan sama sekali fungsi nektar dan bibit‑bibit pembuah. Lebah biasanya
mendapatkan bahan karbohidrat dari nektar dan mendapatkan bahan protein dari
bibit pembuah atau cairan dari berbagai kelenjar.
Penutupan
Sel (Kamar)
Setelah selesai menyuplai sel dengan makanan dan menempatkan
telur di dalam sel, lebah penyendiri biasanya menutup sel itu. Sesuai dengan
kebiasaan yang banyak ditemukan di antara lebah‑lebah penyendiri, sel langsung
ditutup setelah meletakkan telur dalam sel itu.
Sesuai dengan penetrasinya terhadap kelembaban, maka tutup sel
dapat digolongkan kepada dua jenis:
1. Jenis yang dapat dimasuki oleh kelembaban seperti pada lebah
jenis Halictus, Andrena dan Osmia.
2. Jenis yang tidak dapat dimasuki oleh kelembaban, seperti pada
lebah jenis Colletes, Chalicodoma dan
Anthophara.
Menurut tingkatan keserasian, tutup itu
juga dapat digolongkan kepada dua jenis:
1.
Pintu Terkunci
Terdiri dari bagian‑bagian atau bagian‑bagian
kecil terpisah yang tidak bersenyawa yang teronggok secara tidak beraturan pada
gerbang masuk sel. Tutup jenis ini jarang sekali kelihatan, kecuali pada lebah
jenis Halictus dan Anthidium.
2.
Tutup Menyatu
Terdapat pada hampir semua jenis lebah. Ia
terdiri dari bagian‑bagian kecil yang disusun dengan cara tertentu dan
sebagiannya biasanya bergenyawa atau terdiri dari bagian‑bagian lengkap dari
berbagai bahan seperti pada lebah Colletes,
Andrena dan Megachile.
Setelah menutup sel sebagian jenis lebah
membuat berbagai jenis hambatan untuk sampai kepada sel. Misalnya dengan
membangun onggokan‑onggokan dari partikel‑partikel yang biasanya ditinggalkan
tanpa melekat dan tanpa aturan sehingga memenuhi jalan menuju ke sel dan dengan
demikian menghambat lalu lintas lebah yang lain.
Jumlah,
Kamar dalam Sarang
Sedikit sekali lebah jenis penyendiri yang
membuat sarang terdiri dari satu sel saja. Contoh penting dari lebah jenis ini
adalah Osmia papevaria juga terdapat
beberapa jenis yang membuat sarang terdiri dari dua kamar, kamar pertama
sebagai kamar utama dan kamar kedua sebagai kamar tambahan.
Jumlah kamar berbeda sesuai dengan
perbedaan kondisi luar seperti besar kamar dan bidang tempat membuat sarang. Ia
juga berbeda sesuai dengan perbedaan kondisi dalam seperti instink membangun
sendiri atau usia lebah. Dalam keadaan‑keadaan seperti ini, jumlah kamar
biasanya antara 5 dan 6 kamar. Jumlah sampai 10 kamar pada lebah jenis Andrena binaculata, 15 kamar pada lebah
jenis Chalicodma muraria dan Osmia, 17 kamar pada jenis lebah kayu
kecil Ceratina, dan 19 kamar pada
lebah kayu besar Xylcopa. Semua angka
ini tentu saja
menunjuk sarang lebah penyendiri yang
dibangun oleh individu tunggal. Sedangkan sarang‑sarang bertingkat‑tingkat
yang dibangun oleh sejumlah individu secara khusus lebah bermasyarakat yang
telah kita terangkan, sering terdiri dari sejumlah kamar yang sampai ratusan
atau ribuan buah.
Urutan
Kamar dalam Sarang
Biasanya susunan kamar sudah tertentu.
Kamar‑kamar itu mungkin betul-betul terpisah, atau sedikit saling berhubungan,
atau berganda. Bila hubungannya sederhana, terdapat satu jalan menuju kamar,
dan bila berhubungan ganda, barangkali terdapat dua jalan atau lebih. Pada
lebah penggali (digger bees), maka
kamar‑kamar sarang berhubungan antara satu dengan yang lain melalui terowongan
utama menuju kamar‑kamar dan melalui terowongan‑terowongan sampingan untuk
setiap kamar terpisah. Urutan menurut cara ini bersimpang siur. Dalam kesimpangsiuran
itu dapat dibedakan mana jalan‑jalan yang maju ke depan, yang mundur ke
belakang dan yang tetap bila diukur dengan kedalaman dan panjang terowongan
utama ketika jumlah sel (kamar) bertambah.
Contoh kesimpangsiuran yang banyak adalah
pada lebah Halictus. Hal itu karena
hubungan antara sel‑sel pertambahan jumiah dan terowongan utama tidak jelas.
Contoh kesimpangsiuran yang maju ke depan adalah seperti yang terdapat pada
lebah Systropha. Contoh
kesimpangsiuran yang mundur ke belakang adalah seperti yang terdapat pada lebah Colletes cunicitarius. Juga mudah
ditemukan kesimpangsiuran mengikuti putaran jarum jam atau melawannya. Namun
ini tidak begitu penting bila dibandingkan dengan cmpat cara kesimpangsiuran
yang telah disebutkan, karena terdapat pilihan di antara beberapa cara ini,
bahkan di antara puak‑puak dari satu jenis.
Juga terdapat perbedaan mengenai cara
urutan kamar pada level horisontal dan vertikal dalam sarang yang sama.
Terdapat kamar‑kamar yang membuat sudut dengan level horisontal dan vertikal
serta pada beberapa keadaan sudut yang dibuat itu melindungi sel‑sel pada kedua
level secara permanen dalam satu sarang. Barangkali pula hubungan antara kamar‑kamar
itu bersifat sempuma sehingga hilang sama sekali dinding sel yang membujur,
seperti pada sarang lebah (qarsh al‑asal;honeycomb).
Sel‑sel juga tersusun antara cara urutan
sarang lebah dan cara urutan garis atau bersimpangsiur. Pada lebah Osmia coerulescens yang mengisi ruang
sarang, maka kamar‑kamar sering berhubungan antara satu dengan yang lain. Itu
tidak hanya pada jalan ujung saja, seperti pada keadaan urutan garis yang
lurus, tapi juga melalui jalan dinding yang membujur, seperti pada keadaan
sarang lebah. Menurut cara garis lurus, ini dinamakan berbaris banyak. Pada
lebah Osmia fucunda dengan
mengesampingkan besar dan bentuk ruang (seperti pada urutan‑sarang lebah),
sering saling berhubungan antara satu dengan yang lain melalui garis lurus ini
disebut himpunan luruh. Diamati bahwa urutan kamar‑kamar pada sarang lebah
bertahap dalam bersimpangsiuran, lebih banyak dari apa yang ada pada garis
lurus.
Bentuk yang jarang ini terdapat dalam
sarang‑sarang di mana kamar‑kamar dihubungkan secara teratur melalui sisi‑sisi
yang terdapat pada ruang. Inilah yang disebut kamar pendidikan (penjagaan) yang
pada dasarnya merupakan perekatan berbagai terowongan samping yang pendek.
Pada sarang‑sarang ini sel‑sel tersusun pada kamar‑kamar. Sistem seperti ini
terdapat pada lebah Halictus dan pada
beberapa jenis lebah yang membuat sarang madu pada tanah.
Penutupan
Sarang
Setelah sel‑sel selesai dibangun dalam
sarang, maka lebah menutup sarang melalui sebuah tutup yang disebut tutup
sarang. Ini terjadi pada semua jenis dan bangsa lebah selain jenis Ceratina dan Xylocopa. Kedua jenis ini
dikecualikan dari kaidah. Hal itu karena lebah akan terus bekerja di sarang
sampai tenaganya habis. Dengan demikian, lebah itu akan tetap di gerbang masuk
supaya ia dapat mempertahankannya sebisa mungkin.
Di samping adanya proteksi alami bersifat
mekanis, seperti ditemukan pada lebah bermasyarakat, terdapat apa yang disebut
kuburan lebah yang masih hidup seperti pada jenis Lithurgus. Ia juga tidak menutup sarang dan tutup jarang yang
diletakkan dari dalam sehingga mengurung lebah itu sendiri didalam sarang. Di
antara contoh‑contohnya adalah apa yang dilakukan oleh lebah Andiena ovina yang membangun sarang madu
di tanah, kemudian lebah itu meninggalkan sarang pada akhimya.
Tutup sarang dan kamar terbagi tiga:
1. Tutup yang kokoh
2. Tutup yang tidak kokoh
3. Tutup bercampur
(1)Tutup
yang kokoh adalah melalui rekatan partikel‑partikel antara yang satu dengan
yang lain, yang sering mencakup partikel‑partikel lebar yang terpisah satu sama
lain di akhir sel dengan adanya jarak‑jarak yang kosong. Keadaan seperti ini
terdapat pada lebah menetap dan lebah Mason,
seperti pada Osmia globicola dan Chalicodoma.
(2)Tutup
jenis kedua,dibangun dari partikel‑partikel yang tidak melekat dengan partikel
lain, sekalipun bersenyawa seluruhnya, yang tampak seperti onggokan yang
menyatu pada gerbang masuk sarang. Sistem ini terdapat pada lebah penggali
seperti Andrena, tetralonia dan lebah Antrophora
dan terdapat dalam persentase kecil pada lebah Ceratina.
(3)
Jenis ketiga, campuran menghimpun antara yang kokoh dan tidak kokoh.Ia
mencangkup onggokan tanah, partikel‑partikel yang bertaut, dipadatkan atau
lainnya. Pada beberapa keadaan, ia berhubungan dengan suatu kumpulan atau
sistem tertentu dari pintu‑pintu. Contohnya adalah lebah Antrophora acervarum dan lebah Osmia
leucomelaena.
Tutup sarang yang tidak kokoh tersusun dari
bahan yang sama yang menjadi komposisi tutup kamar pada sarang. Perbedaan satu‑satunya,
pada pintu sarang, bahan pada pintu sarang diambilkan dari bagian depan sarang
di mana tidak mungkin membuat terowongan baru. Ini mengakibatkan adanya
penurunan tajam pada salah satu sisi galian atau kamar di permukaan, seperti
pada Tetraloniamalvae dan Anthaphera accervorum................................................................
.....................................
.................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar