Sel‑sel
Lebah Madu
Sel yang digunakan oleh lebah adalah bidang sempit rongga kosong
yang mempunyai pintu masuk di tengah‑tengah antara kedua ujungnya. Kedua ujung
barangkali ditutup dengan dua penyanggah yang cocok terbuat dan kayu. Bila
terdapat keretakan‑keretakan maka ditutup dengan plester dari tanah. Pada
beberapa daerah, sebagai pengganti sanggahan dari kayu digunakan bulatan‑bulatan
batu yang disiapkan sesuai besar lubang. Bulatan‑bulatan batu ini ditemukan
sewaktu dilakukan pekerjaan penggalian di berbagai daerah di kota Maya.
Sel sel terbuat dari tanah yang tidak dihancurkan yang berasal
antara 2.400 sampai 2.133 tahun sebelum masehi. Terdapat juga sel‑sel yang
terbuat dari tanah‑tanah yang sudah dihancurkan berbentuk wadah sedang dengan
panjang 36 cm dan rata‑rata garis tengahnya pada kebanyakan potongan 14 cm di
mana terdapat bukaan dengan garis tengah 2 cm pada lingkaran dengan ujung yang
berhadapan dengan mulut bukaannya. Akan tetapi wadah wadah ini barangkali
digunakan untuk mengumpulkan buangan karena ia kecil dan tidak cocok menjadi
sel yang sebenamya.
Ditemukan sel‑sel yang tidak cocok menjadi sel yang sebenamya.
Ditemukan sel‑sel yang merupakan wadah‑wadah besar yang terbuat dari tanah liat
yang tidak dihaluskan (coarse pottary)
yang mempunyai bukaan yang luas yang dinamakan sel‑sel tanah liat (pottary
hives), berasal dari 500 sampai 600 tahun sebelum masehi.
Sel‑sel
yang ditemukan di utara Eropa bersifat tradisional, merupakan keranjang‑keranjang
terbuat,dari ranting‑ranting yang dijalin, kemudian dari jerami yang dijalin
atau pokok rumbuh‑tumbuhan lainnya yang dkenal dengan nama skeps, berasal dari
abad pertama sampai abad ketiga sebelum Masehi.
Fakta tentang Sel‑sel yang masih digunakan
sampal sekarang
Yang menimbulkan ketakjuban adalah sel‑sel itu tetap atau
tidak berubah atau sel‑sel tradisional yang berjalan selama beratus‑ratus
tahun, barangkali beribu‑ribu tahun. Cara penyusunan, bahan besar dan bentuknya
umumnya tidak mengalami perubahan selama berabad‑abad. Sel‑sel dari tanah liat
biasanya digunakan pada berbagai daerah di Timur jauh seperti di Mesir pada zaman
kuno, seperti juga pada masa sekarang.
Orang Romawi menyebutkan sembilan macam sel yang segi‑seginya
banyak mereka terangkan. Mereka juga menerangkan bagaimana sel‑sel ini dibuat,
yang semuanya berdasarkan sistem horisontal yang sering diletakkan di atas mastaba (ban luar) atau dipahatkan ke
dalam dinding, kadang‑kadang ditempatkan dua baris atau tiga baris bertingkat.
Daftar yang dibuat oleh Crane (1983) berikut ini menjelaskan hal itu:
- Sel‑sel terbuat
dari pohon kayu yang berlubang
- Sel‑sel dari pohon
quercus suber
- Sel‑sel dari kayu
papan
- Sel‑sel dari
ranting‑ranting yang dijalin
- Sel‑sel dari pokok
tumbuh‑tumbuhan yang kokoh di samping pokok yang lain
- Sel‑sel terbuat
dari kotoran hewan
- Sel‑sel dari tanah
yang dihaluskan (bahan porselin atau bahan tanah liat)
- Sel‑sel dari batu
merah
- Sel‑sel transparan
dari bahan tanduk dan mika
- Sel‑sel dari tanah
yang tidak dihaluskan. Sel‑Sel jenis ini tidak diterangkan dalam tulisan‑tulisan
orang Romawi.
Faktor‑faktor yang berhubungan dengan
penggunaan sel‑sel
1. Pemilihan bahan
Setelah pengkajian mendalam terhadap sel‑sel tradisional di
berbagai tempat berbeda di dunia, diketahui bahwa bumi dengan berbagai
bentuknya (tanah, tanah liat, batu‑batuan) merupakan bahan untuk membuat sel‑sel
lebah di negeri-negeri yang kering di mana tidak tersedia kayu.
Orang Inggris berusaha membuat sel‑sel dari kayu dan bahan‑bahan
yang berasal dari tumbuh‑tumbuhan di mana pada masa lalu sel‑sel dibuat dari
cabang-cabang pokok kayu yang gembur karena mudah untuk menghancurkan dan melumatkannya.
2. jenis
Tujuan dari membangun sel, khususnya jenis Apis mellifera (lebah madu), harus dapat
menyiapkan yang berikut ini:
a. Bahan baku pembuatan, komposisi dan kekerasannya yang
bertujuan menjaga lebah dari kondisi‑kondisi udara, yang ia buat dari bahan
selain metal.
b. Volume, volume sel-sel berkisar antara 40‑50 liter, sekalipun
sebagian volume sel mencapai separuhnya, yang digunakan untuk menarik buangan.
c. Bukaan pintu. masuk lebah: Biasanya antara 1‑2 cm dan ini
barangkali pada sel atau pada penyanggah yang digunakan untuk menutup mulut
bukaan. Barangkali juga terdapat bukaan untuk ventilasi. Lebah membutuhkan
sebuah bukaan yang tidak kurang dari 8 cm2.
c.
Sedangkan lebah jenis Apis
cerana, maka sel‑selnya berciri mirip dengan sel‑sel terdahulu, khususnya
jenis Apis mellifera, namun ia
mempunyai volume lebih kecil mencapai dua pertiga volume sel terdahulu dan
isinya antara 10‑15 liter.
Dari uraian terdahulu dapat dikatakan bahwa sel‑sel pertama
yang menyiapkan untuk menempatkan lebah madu adalah sel‑sel sangat sederhana
yang mirip dengan sarang alaminya, yang dibuat adakalanya dari dahan pohon
setelah membuat rongga di dalamnya dan menutupnya dengan tutup yang tidak rapi
dari atas, di mana terdapat bukaan untuk keluar masuk lebah, atau ia membuat dalam
bentuk pipa‑pipa dari bahan porselin atau tanah liat dan biasanya tanah. Lalu
sel‑sel ini berkembang menjadi sel‑sel berbentuk kotak yang tertutup yang
bekerja seperti dalam bentuk dahan kayu, tetapi terdiri dari empat dinding.
Kemudian digunakan skep yang terbuat
dari jerami yang dijalin atau dahan‑dahan lunak dari tumbuh‑tumbuhan semak‑semak.
Dalam beberapa arah untuk tujuan itu sendiri, lebah sampai menggunakan sel kayu
yang mempunyai kamar‑kamar yang berisikan roda‑roda yang bergerak. Kemajuan
perhatian petemak lebah sampai dengan membangun sel dengan rekor intemasional
untuk penggunaan runggal dalam semua koloni. Sel‑sel juga dibuat dari sisa‑sisa
pertanian seperti jerami, serpihan tebu dan lain‑lain.
Juga dalam sarang lilin yang dibangun lebah di dalam tempat
tinggalnya untuk meletakkan telur dan menyimpan bahan makanan merupakan contoh
atas kecanggihan penciptaan Maha Pencipta yang dianugerahkan‑Nya kepada lebah.
Sarang lilin yang berisikan ribuan lubang bersegi enam digunakan sebagai tipuan
untuk mengasuh anak‑anak lebah atau gudang‑gudang untuk menyimpan madu dan
bibit pembuah. Suatu yang menakjubkan, bahwa di samping ia disiapkan betul‑betul
untuk pekerjaan ini, maka yang lebih menakjubkan lagi adalah bentuk persegi
enam dari lubang yang membutuhkan jumlah bahan bangunan yang lebih sedikit,
selain juga ia cocok untuk pertumbuhan anak lebah yang dipelihara dalam lubang‑lubang
ini. Bentuk segi enam adalah bentuk geometrik yang terbaik yang menghasilkan
kekosongan‑kekosongan perantara dan bahwa jumlah lubang dari kekosongan‑kekosongan
ini pada luas tertentu melebihi jumlah bentuk‑bentuk lain pada luas yang sama.
Kita tidak mempunyai sikap lain kecuali tertegun menyerah di
depan kemampuan I’jaz (kemukjizatan)
Al‑Qur'an ini, sewaktu kita menemukan bahwa lebah madu membangun berbagai
lubang di mana terdapat lubang‑lubang kecil yang dalam satu inci persegi
berisikan 28,27 lubang persegi enam. Ini digunakan untuk anak lebah pekerja dan
penyimpan madu. Ada juga yang sedikit lebih besar yang digunakan untuk menjaga
bibit jantan yang dalam satu inci persegi terdapat 18,84 lubang bersegi enam.
Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku. ‑Engkau memberi ilham kepada
dunia yang telah dan masih saja menakjubkan makhluk Engkau yang paling canggih.
Ilmu Engkau Maha Mendahului ilmu manusia, makhluk Engkau yang paling lemah.
Bukankah pada tempat tinggal Lebah terdapat krcasi dan Ilham? Siapakah yang
mengajarkan kepada setiap jenis lebah supaya mengambil bahan baku tertentu
sebagai tempat tinggal dan tidak suka dengan bahan pengganti yang lain? Ia
adalah Allah, Tuhan seluruh alam, pencipta langit dan bumi. Maha benar Allah
dengan firmannya:
"Itu
adalah Allah, Tuhan seluruh alam, Pencipta segala sesuatu. Karena itu,
sembahlah Ia!" (QS 6:102).
"Tidakkah
mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang
diciptakan oleh Allah? .... " (QS 7: 185).
"Tidakkah
mereka mendalami Al‑Qur'an. Sekiraranya berasal dari selain Allah, tentu mereka
akan banyak menemukan berbagai kontradiksi di dalamnya!"
(QS 4:82).
Terakhir sekali, pada rumah‑rumah lebah dan pada dunia lebah
terdapat keajaiban dan kreativitas yang menyingkap rahasia kemukjizatan ilmiah
yang diturunkan dalam Al‑Qur'an Al‑Karim, yang merupakan mukjizat Islam yang
abadi dan kekal, yang berisikan ayat‑ayat dan petunjuk‑petunjuk yang selalu
mengarahkan manusia kepada iman dengan Allah, Tuhan seluruh alam, dan kepada
Islam yang cocok untuk segala ruang dan waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar